*Minggu, 23 September 2012
"Di seberangnya ku terpaku"
Terjerembab dalam Pilihan Takdir
Orang bilang, "tidak ada sesuatu yang kebetulan".
Itu berarti semuanya sudah ada dalam master plan Tuhan, alias TAKDIR. Kau mempercayainya? Akupun sebenarnya tak sanggup pungkiri. Jika kau mengalami suatu hal yang kebetulan, kau bisa benar-benar sungguh berpijak pada bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan. Sudah sewajarnyalah, sudah takdirnyalah itu terjadi dan tentu saja semua orang termasuk kau dan aku bisa nrimo dengan legowo kata orang Jawa.
"Tentu saja!" jika aku mengatakan itu dengan cemooh. Sesuatu yang kebetulan, apapun itu, selama aku mengarungi rimba dunia tak seorangpun yang pernah, sedang, ataupun akan menyesali sebuah takdir yang berwujud kebetulan. Tak pernah kutemui orang berkata, "kemarin kebetulan aku dicopet". Apa itu 'kebetulan'? I don't think so! Apa itu 'takdir'? Yes, probably.
So what about this one?
Ada yang bilang, "itu bukan takdirmu, tapi pilihanmu...".
Banyak orang menemui jalan buntu. Banyak orang menyesali jalannya. Banyak orang menyalahkan hari-hari yang telah lalu. So what? How can you decide it? Is it your wrong choice or your destiny? How do you know it is your fault or it is just happened? Seringkali kau tak kan pernah tahu apa itu benar-benar takdirmu atau pilihanmu saja. Mungkin juga kau takkan pernah mengerti apa itu panggilanmu atau kau hanyalah salah satu tokoh yang bahkan tak mengerti apa perananmu dan begitu saja tiba-tiba terjerembab dalam pilihan yang tak bisa kau pilih.
Apakah kau mau mengakuinya sebagai takdirmu?
***
Dalam masa ku terjerembab dalam pilihan takdir,
Terpaku dalam Seberang, Kosong
"Oh, ini kebetulan!" kukatakan pada diriku
Kebetulan yang enggan sekali tuk milikiku
Aku senang lebih dari itu
Mungkin benar aku merindukannya
Sungguh betapa senang
hingga ku cinta pada takdir dalam wujudnya
kebetulan
Kebetulan yang enggan sekali tuk ku dekap erat
jauh ingin ku lemparnya
pada orang-orang kurang beruntung yang mengais-ngais kebetulan
Betapa ku senang, sungguh namun
kerinduan yang membuncak pada tirus wajahnya
menetapkan pilihannya pada kekosongan tak berwujud
dalam kata yang tak pernah tercipta
dalam definisi yang tak berarti
dalam penjelasan yang tak terjelaskan
hanya diam ku terpaku
senyum ku bawa
biar kosong terisinya
"senang melihatmu kawan," senyumku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar