"Sensei!" begitulah siswa-siswi di sekolah-sekolah Jepang memanggil guru mereka. Bagiku panggilan itu sangat keren dan menyentuh hati, S - E - N - S - E - I, entah mengapa. Mungkin karena sapaan itu berbeda dengan sapaan-sapaan biasa. Maksudku, jika di Indonesia kita biasa memanggil guru-guru kita dengan sebutan "Pak", "Bu". Panggilan "Pak", "Bu" itu adalah kata sapaan yang sama yang kita pakai untuk memanggil orang yang sudah menikah dan atau lebih tua dari kita yang kira-kira sebaya dengan orang tua kita. Sesama oranng tua pun juga menggunakan sapaan "Pak", "Bu". Karenanya itu terasa sama rasa, sama derajat, sama hormat. Tidak ada sebuah kesan bermakna yang mendalam.
Sedangkan kata "sensei" [先 生]berdasarkan etimologinya terdiri dari dua karakter yang terjemahan langsungnya "terlahir lebih dulu" yang mengimplikasikan bahwa orang yang dipanggil sensei adalah orang yang mengajar berdasar pengalaman dan kebijaksanaannya (berdasarkan umurnya). Atau terjemahan lainnya adalah "grand master" [berdasarkan bentukan kata huruf kanjinya. *sulit untuk menjelaskan itu ^^]
"Pak Guru!", "Bu Guru!" Adakah mereka, kalian, ataupun kita para mahasiswa yang menyandang gelar S.Pd. sudah pantas dan layak mengampu sosok yang kelak disebut "Pak Guru dan Bu Guru"? Sosok yang mampu mengemban tugas "digugu lan ditiru" menurut filosofi orang Jawa. Adakah kita sudah berkaca?
*sepenggal goresan yang kuakhiri dengan tanya.
Aku lupa kapan menulis tentang draft ini di bukuku sebelumnya. Tetapi karena satu hal akan kewajiban aku harus berhenti sejenak meninggalkannya. Kala itu ide-ide membanjiri otakku tapi sekarang aku sudah lupa kala itu ingin menulis apa. Karenanya sementara hanya ini, semoga aku bisa menyambungnya lagi...
*Aku sudah mulai belajar mengajar sejak tahun 2010. Namun sampai sekarang aku tak pernah dipanggil "Bu". Aneh mungkin bagimu, tapi aku suka karena aku tidak suka dipanggil dengan sebutan "Bu" (karena memang aku belum berumur ibu-ibu). Aku tidak pernah dipanggil demikian lantaran karakteristik tempat dimana aku mengajar. Pertama, adalah sebuah tempat yang berbasis internasional. Tentu saja akan lebih banyak menggunakan bahasa Inggris. Oleh karena itu, di tempat tersebut semua guru dipanggil Miss dan Mister. Kedua, adalah sebuah tempat yang berbasis budaya Indonesia. Tentu saja lagi-lagi budaya Indonesia yang ditekankan. Dan untuk orang yang belum menikah (yang menjadi guru) akan dipanggil mbak atau mas, bukan kamu seperti kebiasaan dalam bahasa Inggris yang bagi orang Indonesia terdengar kurang sopan (jika belum kenal atau lebih tua). ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar