Beranda

Minggu, 25 November 2012

Hak untuk Menjadi Seorang Pahlawan

Eits! Tunggu! Apa benar menjadi pahlawan itu hak? Kok aku gak tau ya! Siapa ya zaman sekarang yang mau jadi pahlawan? Kalo yang mau jadi superhero sih banyak!

Eh…eh…lha emang apa bedanya pahlawan dengan superhero?


            Baiklah kita hentikan pergunjingan ini sebelum menjadi bom yang bisa meledakkan Hiroshima dan Nagasaki sekali lagi. Sebagai gantinya akan kubeberkan satu-persatu perkara ini selayaknya seorang detektif yang memecahkan kasus criminal terselubung.
            Dalam Bahasa Indonesia kita sebut tentang ini adalah “PAHLAWAN”. Karena sejarah pula biasanya jika kita sebut pahlawan maka kita akan ingat mereka yang berkorban demi bangsa dan negara Indonesia yang pernah terjajah. Jadi, orang-orang seperti Cut Nyak Dien, Diponegoro, A.H.  Nasution, Hatta termasuk dalam pahlawan Nasional Indonesia. Tapi akan beda lagi dengan di luar negeri. Berdasarkan image-image dalam dunia pertelevisian, ada istilah bagi mereka “SUPERHERO”. Tapi aku juga tidak terlalu tahu tentang kriteria seorang pahlawan di luar negeri. - Yah, meski tadi di awal aku mengatakan akan membeberkannya bak Sherlock Holmes memecahkan kasus, tapi akan lebih tepat jika aku katakana aku seumpama Watson yang melihat apa adanya dari sudut pandangnya. - Dan mengenai superhero di luar negeri yang kutahu adalah mereka yang termasuk Batman, Spiderman, Superman dan berbagai tokoh pemilik kekuatan super yang senantiasa menolong orang yang membutuhkan dan berpihak pada kebenaran. Memang terlihat sedikit berbeda antara sosok pahlawan dan superhero. Namun mereka mengandung makna yang sama, seperti dalam KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; atau dengan kata lain, pejuang yang gagah berani.
            Jadi, itu sama saja karena keduanya sama-sama menonjolkan keberanian dan memberikan pengorbanan baik jiwa maupun raga dalam membela kebenaran. Maka bisa kita simpulkan, pahlawan atau superhero adalah sebutan. Sebutan yang diberikan orang lain bagi mereka yang memenuhi kriteria yaitu memiliki keberanian dan mau berkorban dalam membela kebenaran. Dengan demikian siapapun berhak menjadi pahlawan asalkan memenuhi persyaratan tersebut.
            Tidak salahlah jika kita mengatakan ada “hak untuk menjadi seorang pahlawan” bagi siapa saja yang mau atau pun ada bagi kita “hak untuk memberi seseorang anugrah sebagai pahlawan” kita jika memang layak. Singkatnya pahlawan tidak harus orang yang gugur di medan perang atau mereka yang memiliki kekuatan supernatural.
            Ayo kita tengok Zawawi Imron. Dia sempat berbicara tentang pahlawan dalam puisinya. Katanya,
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
Maka bebaslah kita mengatakan siapa pahlawan kita dalam hidup ini.
Dan berbicara tentang pahlawan, kita tengok anak-anak kelas 2 SD yang sedang menuliskan harapan-harapan mereka ataupun cita-cita mereka. Teranglah mereka akan berkelakar ingin menjadi astronot, polisi, dan masih banyak lagi. Begitu polos dan semangat anak-anak kecil ini menyongsong harapan masa dengan mereka.


ada gak ya dari anak-anak ini yang punya cita-cita pingin jadi pahlawan nasional?”





Senin, 19 November 2012

Tentang Hujan Malam Ini




Hari ini hujan begitu deras mengguyur tak henti. Membasahi setiap detik kehidupan bumi yang sudah Tuhan ciptakan lebih dari dua ribu tahun silam. Bagai ingin menenggelamkan bumi sekali lagi dan melenyapkan sekaligus menghanguskan dosa yang bertumbuh dalam janin-janin manusia, meski mungkin hujan itu sendiri tak menghendakinya. Mungkin hujan terdengar marah meneriakkan guntur-gunturnya. Membuat penguasa kegelapan pun lari tunggang langgang dari pecut-pecut kilat sebagai hukuman dosa-dosa mereka.
Tapi kita tak pernah tahu. Apa hujan itu sedang bersedih atau terharu bahagia. Tak pernah kita tahu apa hujan itu mengalir dari sepasang mata di atas sana yang tak terjangkau oleh pandangan kita. Dan apakah ia hanya putaran alam yang tak pernah melahirkan jiwanya sendiri.
Harus bagaimanakah kita dengan hujan ini? Akankah kita menititikkan air mata bersama hujan atau menengadahkan senyum kepadanya?
Hujan sanggup mewadahi semuanya. Semua ekspresi yang bahkan enggan diungkapkan anak manusia. Sudah banyak bukti akan hal ini karena apakah kesedihanmu senada dengan matahari yang cerah bersinar? Apakah bahagiamu sejalan dengan mendung yang melindungi dari terik mentari?
“Bersamanya aku bisa berlari-lari menari di bawah hujan, dan bukannya menghindar untuk mencari tempat berteduh…”
-tepat sekali detik ini pun televisi di hadapanku begitu romantis menyuarakan kebersamaannya dengan hujan-
Hanya hujan yang setia menemani bahkan ketika kita tak ingin terlihat menangis.
Dan hanya hujan yang mengirimkan pelangi setelah kelam didatangkannya.
 “Apakah engkau masih sesetia hujan malam ini, sahabat karibku?”

-hujanpun berhenti untuk memberikan kesempatan
kuntum bunga membawa harapan baru musim semi-

20:12
19 Nov’2012



Kamis, 08 November 2012

GeGar dalam SaLam

              Rajin ataupun pemalas pasti merindukan bunyi bel istirahat ataupun pulang sekolah berdering. Bagaimana kan ku tangkap bunyi itu jika tak sekalipun bel mendering di sekolah ini?

             Kita sebagai manusia adalah jiwa dan raga yang merupakan jasmani dan rohani. Karenanya, kita punya keyakinan dalam rohani kita dan nasionalisme sebagai ikatan jasmani kita. Keduanya punya syahadat tuk kita mengenal, dekat, serta mencintai -nya dan -Nya.
             Firman-Nya didengungkan tiap kali mentari menyapa pagi dan syahadat keimanan pada-Nya diikrarkan tujuh hari sekali. Segala sarana dan prasarana disodorkan sebebas-bebasnya atas dasar guna mengenal-Nya jauh lebih dekat.
            Tapi bagaimana kan ku mengenalnya? Bangsaku, tanah airku. Tak terngiang di benakku apa itu syahadat bangsaku. Pancasila, UUD 1945, tak ketinggalan lagu Indonesia Raya pun telah terasing dariku. Bagaimana kan hati nasionalisme kita kan berkobar jika sepasang mata ini tak sanggup temui sangkaka Merah Putih bangsa ini di tempat ini?

             Kami tak gila hormat. Tapi kami pun ingin mendidik generasi bangsa ini dalam rasa hormat yang dapat mereka tunjukkan.
             Bagaimana kami dapat menghormati pahlawan tanda jasa kami dalam sebuah cara yang tak pernah dilestarikan hingga bersua jabat cium tangan dengan guru kami pun tak terpikirkan dalam benak kami?



*Sebuah kritik penuh tanya, kemarahan, sekaligus rasa rindu