Hari ini hujan begitu deras mengguyur tak henti.
Membasahi setiap detik kehidupan bumi yang sudah Tuhan ciptakan lebih dari dua
ribu tahun silam. Bagai ingin menenggelamkan bumi sekali lagi dan melenyapkan
sekaligus menghanguskan dosa yang bertumbuh dalam janin-janin manusia, meski
mungkin hujan itu sendiri tak menghendakinya. Mungkin hujan terdengar marah
meneriakkan guntur-gunturnya. Membuat penguasa kegelapan pun lari tunggang
langgang dari pecut-pecut kilat
sebagai hukuman dosa-dosa mereka.
Tapi kita tak pernah tahu. Apa hujan itu sedang
bersedih atau terharu bahagia. Tak pernah kita tahu apa hujan itu mengalir dari
sepasang mata di atas sana yang tak terjangkau oleh pandangan kita. Dan apakah
ia hanya putaran alam yang tak pernah melahirkan jiwanya sendiri.
Harus bagaimanakah kita dengan hujan ini? Akankah
kita menititikkan air mata bersama hujan atau menengadahkan senyum kepadanya?
Hujan sanggup mewadahi semuanya. Semua ekspresi
yang bahkan enggan diungkapkan anak manusia. Sudah banyak bukti akan hal ini
karena apakah kesedihanmu senada dengan matahari yang cerah bersinar? Apakah bahagiamu
sejalan dengan mendung yang melindungi dari terik mentari?
“Bersamanya aku bisa berlari-lari menari di bawah hujan, dan bukannya
menghindar untuk mencari tempat berteduh…”
-tepat sekali detik ini pun televisi di
hadapanku begitu romantis menyuarakan kebersamaannya dengan hujan-
Hanya hujan yang setia menemani bahkan ketika kita tak ingin terlihat
menangis.Dan hanya hujan yang mengirimkan pelangi setelah kelam didatangkannya.
“Apakah engkau masih sesetia hujan malam ini, sahabat karibku?”
-hujanpun berhenti untuk memberikan
kesempatan
kuntum bunga membawa harapan baru musim
semi-
20:12
19 Nov’2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar