Beranda

Senin, 19 November 2012

Tentang Hujan Malam Ini




Hari ini hujan begitu deras mengguyur tak henti. Membasahi setiap detik kehidupan bumi yang sudah Tuhan ciptakan lebih dari dua ribu tahun silam. Bagai ingin menenggelamkan bumi sekali lagi dan melenyapkan sekaligus menghanguskan dosa yang bertumbuh dalam janin-janin manusia, meski mungkin hujan itu sendiri tak menghendakinya. Mungkin hujan terdengar marah meneriakkan guntur-gunturnya. Membuat penguasa kegelapan pun lari tunggang langgang dari pecut-pecut kilat sebagai hukuman dosa-dosa mereka.
Tapi kita tak pernah tahu. Apa hujan itu sedang bersedih atau terharu bahagia. Tak pernah kita tahu apa hujan itu mengalir dari sepasang mata di atas sana yang tak terjangkau oleh pandangan kita. Dan apakah ia hanya putaran alam yang tak pernah melahirkan jiwanya sendiri.
Harus bagaimanakah kita dengan hujan ini? Akankah kita menititikkan air mata bersama hujan atau menengadahkan senyum kepadanya?
Hujan sanggup mewadahi semuanya. Semua ekspresi yang bahkan enggan diungkapkan anak manusia. Sudah banyak bukti akan hal ini karena apakah kesedihanmu senada dengan matahari yang cerah bersinar? Apakah bahagiamu sejalan dengan mendung yang melindungi dari terik mentari?
“Bersamanya aku bisa berlari-lari menari di bawah hujan, dan bukannya menghindar untuk mencari tempat berteduh…”
-tepat sekali detik ini pun televisi di hadapanku begitu romantis menyuarakan kebersamaannya dengan hujan-
Hanya hujan yang setia menemani bahkan ketika kita tak ingin terlihat menangis.
Dan hanya hujan yang mengirimkan pelangi setelah kelam didatangkannya.
 “Apakah engkau masih sesetia hujan malam ini, sahabat karibku?”

-hujanpun berhenti untuk memberikan kesempatan
kuntum bunga membawa harapan baru musim semi-

20:12
19 Nov’2012



Tidak ada komentar:

Posting Komentar