Beranda

Kamis, 08 November 2012

GeGar dalam SaLam

              Rajin ataupun pemalas pasti merindukan bunyi bel istirahat ataupun pulang sekolah berdering. Bagaimana kan ku tangkap bunyi itu jika tak sekalipun bel mendering di sekolah ini?

             Kita sebagai manusia adalah jiwa dan raga yang merupakan jasmani dan rohani. Karenanya, kita punya keyakinan dalam rohani kita dan nasionalisme sebagai ikatan jasmani kita. Keduanya punya syahadat tuk kita mengenal, dekat, serta mencintai -nya dan -Nya.
             Firman-Nya didengungkan tiap kali mentari menyapa pagi dan syahadat keimanan pada-Nya diikrarkan tujuh hari sekali. Segala sarana dan prasarana disodorkan sebebas-bebasnya atas dasar guna mengenal-Nya jauh lebih dekat.
            Tapi bagaimana kan ku mengenalnya? Bangsaku, tanah airku. Tak terngiang di benakku apa itu syahadat bangsaku. Pancasila, UUD 1945, tak ketinggalan lagu Indonesia Raya pun telah terasing dariku. Bagaimana kan hati nasionalisme kita kan berkobar jika sepasang mata ini tak sanggup temui sangkaka Merah Putih bangsa ini di tempat ini?

             Kami tak gila hormat. Tapi kami pun ingin mendidik generasi bangsa ini dalam rasa hormat yang dapat mereka tunjukkan.
             Bagaimana kami dapat menghormati pahlawan tanda jasa kami dalam sebuah cara yang tak pernah dilestarikan hingga bersua jabat cium tangan dengan guru kami pun tak terpikirkan dalam benak kami?



*Sebuah kritik penuh tanya, kemarahan, sekaligus rasa rindu







Tidak ada komentar:

Posting Komentar