Beranda

Selasa, 25 Desember 2012

Jeruji Jiwa

Menatap lirih dalam-dalam
Pada larik menarikan alam
Kata bahasa bisu
Namun hati tak sampai merangkai
Dahan-dahan reranting perasaan
Jua maksud absurd
Yang terbawa kata
Dalam bilah saraf otakku

Terbang tenggelam dunia fana
Antara lipatan-lipatan memori
Mengukir asa meski perih
Menatap lirih
Membuka pintu getar jeruji jiwa

Perlahan pelan ku temu lagi
Mata sayu menyimpan rayu
Meminta dekap sang ayu
Perlahan pelan kulihat kembali
Gerik dalam gerak merangkak
Mengingin dekat

Ntah hendak hati ini berbisik apa
Dalam getar jeruji jiwa
Yang memenjarakan
takut

Selasa, 11 Desember 2012

01122012 - Mencari Bakul Terang Bulan

#dalam perjalanan menuju bakul terang bulan karena tiada bulan malam ini, apalagi bintang dalam mendung menuju hari kelahiranku yang antara ingin namun juga menyisipkan takut

Habis kikis aku dimakan bosan
Memaknai setiap jengkal waktu
Yang terlewatkan sudah
Dalam gundah
Dalam jengah
Percuma tiada asa
Seperti makanan
Yang bahkan dalam hal terburuk
Tidak membuatku menangis kepedasan
Meski pula hambar bagai air
Namun tak buatku hilang akan dahaga
Sebuah perfilman kehidupan yang tak layak
Dihadirkan dan
Sepenuhnya aku bertanggung jawab atasnya
Sebagai sutradara mutlak
Yang tak bias elak
Drama ini
Bukan tragedi
Bukan pula horror
Apalagi happy ending
Dan beri saja notication,
“Don’t try this at home.”

Minggu, 25 November 2012

Hak untuk Menjadi Seorang Pahlawan

Eits! Tunggu! Apa benar menjadi pahlawan itu hak? Kok aku gak tau ya! Siapa ya zaman sekarang yang mau jadi pahlawan? Kalo yang mau jadi superhero sih banyak!

Eh…eh…lha emang apa bedanya pahlawan dengan superhero?


            Baiklah kita hentikan pergunjingan ini sebelum menjadi bom yang bisa meledakkan Hiroshima dan Nagasaki sekali lagi. Sebagai gantinya akan kubeberkan satu-persatu perkara ini selayaknya seorang detektif yang memecahkan kasus criminal terselubung.
            Dalam Bahasa Indonesia kita sebut tentang ini adalah “PAHLAWAN”. Karena sejarah pula biasanya jika kita sebut pahlawan maka kita akan ingat mereka yang berkorban demi bangsa dan negara Indonesia yang pernah terjajah. Jadi, orang-orang seperti Cut Nyak Dien, Diponegoro, A.H.  Nasution, Hatta termasuk dalam pahlawan Nasional Indonesia. Tapi akan beda lagi dengan di luar negeri. Berdasarkan image-image dalam dunia pertelevisian, ada istilah bagi mereka “SUPERHERO”. Tapi aku juga tidak terlalu tahu tentang kriteria seorang pahlawan di luar negeri. - Yah, meski tadi di awal aku mengatakan akan membeberkannya bak Sherlock Holmes memecahkan kasus, tapi akan lebih tepat jika aku katakana aku seumpama Watson yang melihat apa adanya dari sudut pandangnya. - Dan mengenai superhero di luar negeri yang kutahu adalah mereka yang termasuk Batman, Spiderman, Superman dan berbagai tokoh pemilik kekuatan super yang senantiasa menolong orang yang membutuhkan dan berpihak pada kebenaran. Memang terlihat sedikit berbeda antara sosok pahlawan dan superhero. Namun mereka mengandung makna yang sama, seperti dalam KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; atau dengan kata lain, pejuang yang gagah berani.
            Jadi, itu sama saja karena keduanya sama-sama menonjolkan keberanian dan memberikan pengorbanan baik jiwa maupun raga dalam membela kebenaran. Maka bisa kita simpulkan, pahlawan atau superhero adalah sebutan. Sebutan yang diberikan orang lain bagi mereka yang memenuhi kriteria yaitu memiliki keberanian dan mau berkorban dalam membela kebenaran. Dengan demikian siapapun berhak menjadi pahlawan asalkan memenuhi persyaratan tersebut.
            Tidak salahlah jika kita mengatakan ada “hak untuk menjadi seorang pahlawan” bagi siapa saja yang mau atau pun ada bagi kita “hak untuk memberi seseorang anugrah sebagai pahlawan” kita jika memang layak. Singkatnya pahlawan tidak harus orang yang gugur di medan perang atau mereka yang memiliki kekuatan supernatural.
            Ayo kita tengok Zawawi Imron. Dia sempat berbicara tentang pahlawan dalam puisinya. Katanya,
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
Maka bebaslah kita mengatakan siapa pahlawan kita dalam hidup ini.
Dan berbicara tentang pahlawan, kita tengok anak-anak kelas 2 SD yang sedang menuliskan harapan-harapan mereka ataupun cita-cita mereka. Teranglah mereka akan berkelakar ingin menjadi astronot, polisi, dan masih banyak lagi. Begitu polos dan semangat anak-anak kecil ini menyongsong harapan masa dengan mereka.


ada gak ya dari anak-anak ini yang punya cita-cita pingin jadi pahlawan nasional?”





Senin, 19 November 2012

Tentang Hujan Malam Ini




Hari ini hujan begitu deras mengguyur tak henti. Membasahi setiap detik kehidupan bumi yang sudah Tuhan ciptakan lebih dari dua ribu tahun silam. Bagai ingin menenggelamkan bumi sekali lagi dan melenyapkan sekaligus menghanguskan dosa yang bertumbuh dalam janin-janin manusia, meski mungkin hujan itu sendiri tak menghendakinya. Mungkin hujan terdengar marah meneriakkan guntur-gunturnya. Membuat penguasa kegelapan pun lari tunggang langgang dari pecut-pecut kilat sebagai hukuman dosa-dosa mereka.
Tapi kita tak pernah tahu. Apa hujan itu sedang bersedih atau terharu bahagia. Tak pernah kita tahu apa hujan itu mengalir dari sepasang mata di atas sana yang tak terjangkau oleh pandangan kita. Dan apakah ia hanya putaran alam yang tak pernah melahirkan jiwanya sendiri.
Harus bagaimanakah kita dengan hujan ini? Akankah kita menititikkan air mata bersama hujan atau menengadahkan senyum kepadanya?
Hujan sanggup mewadahi semuanya. Semua ekspresi yang bahkan enggan diungkapkan anak manusia. Sudah banyak bukti akan hal ini karena apakah kesedihanmu senada dengan matahari yang cerah bersinar? Apakah bahagiamu sejalan dengan mendung yang melindungi dari terik mentari?
“Bersamanya aku bisa berlari-lari menari di bawah hujan, dan bukannya menghindar untuk mencari tempat berteduh…”
-tepat sekali detik ini pun televisi di hadapanku begitu romantis menyuarakan kebersamaannya dengan hujan-
Hanya hujan yang setia menemani bahkan ketika kita tak ingin terlihat menangis.
Dan hanya hujan yang mengirimkan pelangi setelah kelam didatangkannya.
 “Apakah engkau masih sesetia hujan malam ini, sahabat karibku?”

-hujanpun berhenti untuk memberikan kesempatan
kuntum bunga membawa harapan baru musim semi-

20:12
19 Nov’2012



Kamis, 08 November 2012

GeGar dalam SaLam

              Rajin ataupun pemalas pasti merindukan bunyi bel istirahat ataupun pulang sekolah berdering. Bagaimana kan ku tangkap bunyi itu jika tak sekalipun bel mendering di sekolah ini?

             Kita sebagai manusia adalah jiwa dan raga yang merupakan jasmani dan rohani. Karenanya, kita punya keyakinan dalam rohani kita dan nasionalisme sebagai ikatan jasmani kita. Keduanya punya syahadat tuk kita mengenal, dekat, serta mencintai -nya dan -Nya.
             Firman-Nya didengungkan tiap kali mentari menyapa pagi dan syahadat keimanan pada-Nya diikrarkan tujuh hari sekali. Segala sarana dan prasarana disodorkan sebebas-bebasnya atas dasar guna mengenal-Nya jauh lebih dekat.
            Tapi bagaimana kan ku mengenalnya? Bangsaku, tanah airku. Tak terngiang di benakku apa itu syahadat bangsaku. Pancasila, UUD 1945, tak ketinggalan lagu Indonesia Raya pun telah terasing dariku. Bagaimana kan hati nasionalisme kita kan berkobar jika sepasang mata ini tak sanggup temui sangkaka Merah Putih bangsa ini di tempat ini?

             Kami tak gila hormat. Tapi kami pun ingin mendidik generasi bangsa ini dalam rasa hormat yang dapat mereka tunjukkan.
             Bagaimana kami dapat menghormati pahlawan tanda jasa kami dalam sebuah cara yang tak pernah dilestarikan hingga bersua jabat cium tangan dengan guru kami pun tak terpikirkan dalam benak kami?



*Sebuah kritik penuh tanya, kemarahan, sekaligus rasa rindu







Sabtu, 27 Oktober 2012

Nada Diam

*dalam sudut dudukku
Detak jam membisikkan pukul 06.38 WIB di tanganku
Jarum yang satu duduk tenang dalam
satu menit dekati angka tujuh
sebagai keberuntungannya
Lagi jarum yang lain berdiri tegak
di antara angka tujuh dan delapan yang hendak
segera menuju lingkaran magnet tak putus angka delapan
Terlihat keduanya oleh kita
bersudut kurang daripada lima derajat

Anggaplah begitu jika kita ukur
dalam hitungan ilmu derajat ukur

Bak jarum yang satu
hanya bisa ku duduk diam
sementara jarum yang lain tegak berdiri
Berirama ia bersama ketipung mengiringi
pujian Tuhan dalam hati domba biri
Siapakah ia?
dalam diriku berucap nada,
"Tuhan, tolong hapuskan kebimbanganku!"
"Tuhan, tolong teguhkan keyakinanku!"





*Secarik lagu ciptaan Pdt. Suko Tiyarno - yang hari diajaknya untuk dinyanyikan dalam khotbahnya -
yang tergoreskan draft Nada Diam itu dipunggungnya.



Kamis, 25 Oktober 2012

Mimpi, Dream, 夢, όνειρο




              I like my name. My full name is Yusinta Memoriani. The part I like is “MEMORI” that means ‘kenangan’ in Indonesian or ‘memory’ in English. And if I make an acronym of my name, its form YUME that means “dream” in Japanese. Ahahahaha! It is just intermezzo because we will talk about dream.

              There is one of motivator said that he did not like the word “mimpi” (dream in Indonesian) because it feels like it is just daydreaming without hopes inside that dream. But I do not meant to discuss about the philosophy of a words.

              “Dream high. Its free.” said one of my friends on his facebook status. I said, “Yes! You must dream high!” It will make you cheer up. At least when you do not know what you should do and hopeless, you have point of view that there are still dreams you can reach. Although sometimes I also feel hopeless but if we have dream it shows that we still have hope. There is nothing impossible right. My lecturer said that we must confident that we can do it. If we think we can do it so we do can do it. But once we think we can not, we do can not. So just think we can do it, we can make it.

             I also ever read a book about dream. That book is one of Chicken Soup series. That book tells that there is someone who wrote down his one hundred dreams on the paper and sticks it on the wall in his room. Day by day one by one that dreams was fulfill without he realized it. And that book also said that believing is more important than anyone plan we have. Then I followed that way. I found it is work. (You can try it also to write down your one hundred dreams or everything you want in this life and more). That note of the dreams will help us to not get lost. The feelings that we have a hope, dream; we know what we want and what we should do is very important. I have ever felt that I got lost. I do not know what I want. I do not know what to do. It is all emptiness. I do not know what and where I am looking for and how to find it. I can not find it. It is like hell. Lazy all of the time, do everything half heart way. I do not know how to explain it more. Just…it worst. Although until now I still try to find it, I feel better. I do not want you to feel that way. So as a friend, I want to give you this four leaf clover. It is a symbol of luck in Japan and some other country. This leaf is special because it appears 1: 100.000 because of genetic factor. Hopefully you are fulfilled by luck to meet your dream. :)

Fly high guys. Spread your wings!
Run…run…run! Do your best! Never give up run to meet your dream.

No matter how long you walk,
provided that you never stop. :)

Senin, 22 Oktober 2012

"Sensei!"

           

                      "Sensei!" begitulah siswa-siswi di sekolah-sekolah Jepang memanggil guru mereka. Bagiku panggilan itu sangat keren dan menyentuh hati, S - E - N - S - E - I, entah mengapa. Mungkin karena sapaan itu berbeda dengan sapaan-sapaan biasa. Maksudku, jika di Indonesia kita biasa memanggil guru-guru kita dengan sebutan "Pak", "Bu". Panggilan "Pak", "Bu" itu adalah kata sapaan yang sama yang kita pakai untuk memanggil orang yang sudah menikah dan atau lebih tua dari kita yang kira-kira sebaya dengan orang tua kita. Sesama oranng tua pun juga menggunakan sapaan "Pak", "Bu". Karenanya itu terasa sama rasa, sama derajat, sama hormat. Tidak ada sebuah kesan bermakna yang mendalam.
                     Sedangkan kata "sensei" [先 生]berdasarkan etimologinya terdiri dari dua karakter yang terjemahan langsungnya "terlahir lebih dulu" yang mengimplikasikan bahwa orang yang dipanggil sensei adalah orang yang mengajar berdasar pengalaman dan kebijaksanaannya (berdasarkan umurnya). Atau terjemahan lainnya adalah "grand master" [berdasarkan bentukan kata huruf kanjinya. *sulit untuk menjelaskan itu ^^]
                    "Pak Guru!", "Bu Guru!" Adakah mereka, kalian, ataupun kita para mahasiswa yang menyandang gelar S.Pd. sudah pantas dan layak mengampu sosok yang kelak disebut "Pak Guru dan Bu Guru"? Sosok yang mampu mengemban tugas "digugu lan ditiru" menurut filosofi orang Jawa. Adakah kita sudah berkaca?



*sepenggal goresan yang kuakhiri dengan tanya.
Aku lupa kapan menulis tentang draft ini di bukuku sebelumnya. Tetapi karena satu hal akan kewajiban aku harus berhenti sejenak meninggalkannya. Kala itu ide-ide membanjiri otakku tapi sekarang aku sudah lupa kala itu ingin menulis apa. Karenanya sementara hanya ini, semoga aku bisa menyambungnya lagi...


*Aku sudah mulai belajar mengajar sejak tahun 2010. Namun sampai sekarang aku tak pernah dipanggil "Bu". Aneh mungkin bagimu, tapi aku suka karena aku tidak suka dipanggil dengan sebutan "Bu" (karena memang aku belum berumur ibu-ibu). Aku tidak pernah dipanggil demikian lantaran karakteristik tempat dimana aku mengajar. Pertama, adalah sebuah tempat yang berbasis internasional. Tentu saja akan lebih banyak menggunakan bahasa Inggris. Oleh karena itu, di tempat tersebut semua guru dipanggil Miss dan Mister. Kedua, adalah sebuah tempat yang berbasis budaya Indonesia. Tentu saja lagi-lagi budaya Indonesia yang ditekankan. Dan untuk orang yang belum menikah (yang menjadi guru) akan dipanggil mbak atau mas, bukan kamu seperti kebiasaan dalam bahasa Inggris yang bagi orang Indonesia terdengar kurang sopan (jika belum kenal atau lebih tua). ^^

Selasa, 16 Oktober 2012

Dialog di Persimpangan



*inspirated by "GTO drama eps. 10"^^
Hopefully it can help you whoever that confused which path to take...


Perempuan itu berkata, "Apa ini salah?"
"Apa?" sahut lelaki itu.
"mm....pendaftaran itu,"
"tidak juga," kata lelaki itu sambil lalu.
"Kalau kau tidak ingin aku melakukannya, kau bisa mengatakannya padaku."
"Mengapa harus aku?"
"karena jika aku diterima, aku harus pergi dari sini."
"Oh, kau tidak ingin berpisah denganku?" ucap sang lelaki tanpa ekspresi menggoda.
"Tidak!" serbu si perempuan terburu-buru.
"aku cuma....," lanjutnya.
"cuma apa?" serang sang lelaki.
"tak peduli seberapapun  banyaknya mimpi yang ada padaku, apa baik jika aku baru melakukannya sekarang?"
"Melakukan sesuatu tanpa khawatir tentang konsekuensinya bukankah itu yang kau yakini?"
"Ya, tapi... Tapi aku tidak lagi muda dengan usia belasan tahun. Aku sudah lebih tua sekarang."
"Kalau begitu tak perlu mendaftar." snag lelaki menyimpulkan.
"Jangan asal memutuskan dengan pikiran pendek seperti itu!" sahut si perempuan dengan nada tinggi.
"Kalau begitu ya mendaftar saja,"
"Lalu yang benar yang mana?" si perempuan mulai kesal.
"Apa kau akan melakukan apapun yang aku katakan? Haruskah aku yang memutuskannya untukmu?"
Si perempuan hanya bisa diam terpaku mendengar jawaban lelaki itu.



*when I saw this drama, I feel that I am quite the same with Fuyutsuki sensei who does not like to be a teacher (and she wants to be a stewardess). She could not answer if she was asked why she becomes a teacher. If I could say, I'll say, "I don't know. I just stuck here.."
I had learned from this dialog and I do not want to ask to much but many question about this path still lingering in my mind no matter how. I had tried to enjoy my path and do my best but it is difficult to love something that you hate.
I just do not like to do something in half heart. But I can not force my self to do it with a great full heart.
I hate this feeling...><